Meinawati Prastutiningsih
Malaikat kecil dengan tatapan kosong
Lupakah engkau bagaimana cara tersenyum nak?
Bahkan mungkin kau tak pernah tau manisnya masa kanak-kanak
Karena sejak awal kehidupanmu
Yang kau tau hanya deru senapan dan kilatan hujan peluru
Yang kau lihat hanya darah mengalir dan sisa puing kehidupan
Yang kau rasakan hanya kecemasan dan ketakutan
Yang kau akrabi hanya maut dan kematian
Seakan hanya menunggu kapan giliran datang
Jakarta, 06/02/11
(menangis pagi-pagi, gara-gara melihat ini)
Meinawati Prastutiningsih
Katakan...
apakah semua orang butuh rumah untuk pulang?
aku juga..
setelah begitu banyak jarak dan waktu kutempuh,
aku ingin pulang....padamu
karena kaulah rumah bagi jiwaku.
Saga Merah (nama alias yg aku pergunakan saat mempublikasikan puisi ini di satu milis)
Jakarta, 11/03/05
Meinawati Prastutiningsih
bila kekuasaan menafikan apa yang hamba tahu sebagai kebenaran
bila kebenaran menguap lepas ke udara dari tahang berarangkan uang
lalu apa hak hamba selaku rakyat jelata?
masihkah hamba punya hak untuk bicara?
masihkah anak-anak hamba bisa menggapai cita?
masihkah kaum miskin papa mengenal keadilan yang sulit didapatnya?
Tuhan…, hamba takut
mohon jagalah hamba
agar hamba tak menjadi serakah akan dunia
agar hamba tak menjadi bagian dari mereka
yang lupa bahwa dunia ini fana adanya
yang lupa bahwa Engkaulah maha pemilik segala
mohon dengan sangat Tuhan….
Amin
Saga Merah
Jakarta, 11/02/04
(prihatinku atas bungkamnya kebenaran)
Meinawati Prastutiningsih
Wahai penguasa hati….
Susah payah kucoba tipu diri
Setengah mati kucoba ingkari rasa ini
Tapi kau khianati aku
Dengan jujur dan manis, kau sambut cinta lama hadir kembali
Wahai penguasa mimpi…
Kenapa kau semai lagi indahnya harapan
Setelah kuretas tuntas dan kubuang benih-benih mimpi
Tapi kau ….
Dengan setiamu kau jaga benih harapan, menggadangnya menjadi tunas
Wahai diri…
Kenapa tak kuasa berpaling lagi?
Saga Merah
Jakarta, 07/10/07
Meinawati Prastutiningsih
Lalu apa..?
Tanyaku menggantung…, tak berjawab
Tatapku nanar menangkap lidah kelu dan mata murungmu
Waktu melintas lagi secepat angin
Tanyaku tetap menggantung.., tak berjawab
Tapi sesayup kudengar suaramu
“ aku mencintaimu, tapi aku tak berani memilikimu…”
Saga Merah
Jakarta, 07/10/07
Meinawati Prastutiningsih
Ada bimbang menghunjam kian dalam
Tak mau pergi
Ada galau meraja kian pasti
Tak kumengerti
Ada rindu membias malu-malu
Tapi masihkah berarti…?
Saga Merah (nama alias yg aku pergunakan waktu mempublikasikan puisi ini di satu milis)
Jakarta, ../12/03
Meinawati Prastutiningsih
laki-laki terlarang itu
dulu pernah datang dengan cinta
atas nama cinta
laki-laki terlarang itu
hadir lagi sekarang
tetap atas nama cinta
menawarkan cinta yang sama
ahh...aku tergoda
sungguh
tapi aku tak mampu bilang ya
Saga Merah
Jakarta, 25/03/04
Meinawati Prastutiningsih
I
Bila aku boleh titipkan rasa pada bulan
Kan kulakukan itu
Agar saat kau tatap langit berpurnama
Kau bisa rasakan pendar cintaku dalam hangat cahya keemasannya
II
Bulan berjalan dalam kepastian
meninggalkan malam dengan kepasrahan
Mengantarkan pagi pada sang surya
Menemani pagi walau sinarnya tiada
Saga Merah
Jakarta, 24/04/04
Meinawati Prastutiningsih
(Rinduku padamu tak bertepi, smsmu siang ini)
……….
……….
Rindu, bukankah sebaiknya tak bertepi?
Karena kita tak tahu apa yang ada di tepiannya
Bila aku sampai di tepian rinduku,
Akankah aku tetap merasa rindu padamu?
Ataukah rinduku berakhir begitu saja?
Karena tepian adalah akhir..
Saga merah,
Jakarta , 06/05/04
Meinawati Prastutiningsih
Berat puasaku kali ini, mas..
Kau ganggu khusukku
Aku khusuk menahan lapar mataku
Aku khusuk menahan dahaga lidahku dari ucapan yang tak perlu
Aku khusuk menahan hatiku dari iri dan riya
Tapi sungguh aku tak kuasa menahan pikiranku darimu
Sungguh pikiranku lapar dan dahaga kan dirimu..
Saga Merah
Jakarta, 22/10/04
Meinawati Prastutiningsih
Langkah demi langkah,
kuambil
walau jujur ku tak tau arah
Saga Merah (nama alias yg aku pergunakan waktu mempublikasikan puisi ini di satu milis)
Jakarta, 13/03/05
Meinawati Prastutiningsih
Adakah yang lebih menyakitkan
Selain merindukan seseorang yang juga merindukanmu
Tapi belenggu tak kasat mata menahan langkahmu
Adakah yang lebih dalam
Selain keikhlasan melepaskan kecintaanmu
Walaupun itu berarti meluluhlantakkan hatimu sendiri
Adakah yang lebih berarti
Selain kesabaran meniti waktu mewujudkan takdirmu
Ah, andai aku tau pasti bahwa kaulah memang takdirku...
Saga Merah (nama alias yg aku pergunakan waktu mempublikasikan puisi ini di satu milis)
14/02/06
Meinawati Prastutiningsih
Menatap hadirmu tak pernah cukup buatku
Rindu yang membuncah deras di tiap aliran darahku
Menggapaikan tanganku menyentuhmu, merasaimu
Mendengar alun suaramu tak pernah puaskan telingaku
Sejuknya, iramanya, bawaku melayang
Membuatku ingin mencerap semua bahasa dan katamu,
bahkan yang tak terucap sekalipun
Memandang dalam-dalam ke bola matamu tak pernah bosankan aku
Walau getarnya membuat luluh tulang-tulangku
Aku boneka lilin tanpa daya di bawah tatapanmu
Bahwa akhirnya ketidakpastian dan ketidakyakinan
Membuat aku tak berdaya
Membuat aku tak berani
Memaksaku menahan diri untuk merengkuhmu dalam duniaku
Tapi sungguh aku kangen kamu…
saga merah (nama alias yg aku pakai mempublikasikan puisi ini di satu milis)
Jakarta, 15/01/04